Makna Kemerdekaan, Bank Jambi Penggerak Kemandirian Ekonomi Masyarakat

JAMBI – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus tidak semata menjadi momentum untuk mengenang jasa para pejuang. Bagi institusi keuangan daerah, peringatan kemerdekaan juga dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi sejauh mana peran mereka dalam mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.

Pengamat perbankan Laila Farhat, S.E., M.M., menilai Bank Pembangunan Daerah (BPD) seperti Bank Jambi memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam bentuk nyata, khususnya melalui penguatan ekonomi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Menurut Laila, kemerdekaan dalam perspektif ekonomi tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga tercermin dari kemampuan masyarakat memperoleh akses permodalan, mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, serta memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh secara ekonomi.

“Dalam konteks perbankan, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bagaimana masyarakat memiliki akses terhadap pembiayaan, mampu mengembangkan usaha, meningkatkan kesejahteraan, dan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk tumbuh secara ekonomi,” ujar Laila.

Laila mengatakan, fungsi Bank Jambi tidak sebatas menghimpun dana dari masyarakat. Sebagai bank pembangunan daerah, dana tersebut diharapkan dapat disalurkan kembali kepada sektor-sektor yang mampu menggerakkan perekonomian daerah.

Ia menyoroti kondisi ekonomi Jambi yang pada triwulan I 2026 tumbuh 4,33 persen secara tahunan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi Bank Jambi untuk memperkuat pembiayaan terhadap sektor produktif.

“Bank Jambi harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi daerah. Kredit yang disalurkan kepada UMKM, pertanian, perkebunan, perdagangan, jasa dan sektor produktif lainnya pada akhirnya akan menciptakan aktivitas ekonomi, lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Menurut Laila, keberadaan bank daerah harus dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat. Pembiayaan yang tepat sasaran dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong aktivitas ekonomi sekaligus memperluas kesempatan kerja.

Selain pembiayaan, Laila menilai penguatan inklusi dan literasi keuangan juga menjadi bagian penting dalam mengisi kemerdekaan.

Masyarakat, kata dia, seharusnya tidak berhenti sebagai pengguna produk perbankan. Lebih jauh, mereka perlu didorong menjadi pelaku ekonomi yang produktif dan memiliki kemampuan mengelola keuangan secara mandiri.

Karena itu, transformasi layanan digital, perluasan akses perbankan, penguatan pembiayaan UMKM serta peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi sejumlah langkah yang dapat dilakukan Bank Jambi.

“Bank daerah harus hadir dekat dengan masyarakat. Ketika pelaku UMKM mendapatkan modal, petani memperoleh akses pembiayaan, pedagang dapat mengembangkan usaha, dan masyarakat semakin mudah memperoleh layanan keuangan, di situlah kemerdekaan memiliki makna ekonomi yang nyata,” jelasnya.

Meski mendorong ekspansi pembiayaan, Laila mengingatkan agar pertumbuhan kredit tidak dilakukan secara agresif tanpa memperhatikan aspek kesehatan bank.

Menurutnya, peningkatan penyaluran kredit harus berjalan beriringan dengan kualitas aset, manajemen risiko, tata kelola perusahaan serta kemampuan menyelesaikan atau memulihkan kredit bermasalah.

“Semangat kemerdekaan bukan berarti mengejar pertumbuhan tanpa batas. Justru kemerdekaan harus dibangun dengan fondasi yang kuat, termasuk perbankan yang sehat, efisien, prudent dan dipercaya masyarakat,” tegas Laila.

Laila melihat Bank Jambi masih memiliki ruang yang cukup besar untuk memperkuat perannya sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.

Ia mencontohkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Jambi hingga Mei 2026 yang mencapai Rp3,42 triliun kepada 35.744 debitur. Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang memperoleh porsi pembiayaan cukup besar.

Data tersebut, menurut Laila, menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan terhadap sektor produktif di Jambi masih sangat besar.

“Ke depan, semangat Bank Jambi harus sejalan dengan semangat kemerdekaan, yaitu menjadi bank yang semakin kompetitif tetapi tetap memiliki keberpihakan kuat terhadap pembangunan daerah,” katanya.

Laila menilai ukuran keberhasilan Bank Jambi sebagai BPD tidak semestinya hanya dilihat dari pertumbuhan aset, laba atau ekspansi bisnis.

Lebih dari itu, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat menjadi salah satu indikator penting untuk melihat keberhasilan bank daerah menjalankan fungsinya.

“Bank Jambi akan benar-benar menjadi bagian dari kemerdekaan ekonomi ketika masyarakat Jambi semakin mudah mengakses pembiayaan, semakin produktif, semakin mandiri dan semakin sejahtera. Itulah bentuk nyata mengisi kemerdekaan melalui sektor perbankan,” pungkasnya.

Pandangan tersebut menempatkan Bank Jambi bukan hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga sebagai salah satu instrumen pembangunan ekonomi daerah.

Sebagai BPD, Bank Jambi memiliki ruang strategis untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan masyarakat dengan agenda pembangunan daerah. Tantangannya adalah memastikan fungsi tersebut berjalan secara sehat, tepat sasaran, inklusif, dan memberikan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat Jambi.

Peringatan ! Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Pos terkait