VOJNEWS.ID – Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief dan H Bakhtiar, unggul jauh dari Kolom Kosong, dengan suara masuk 100 persen. Terlepas dari jumlah suara yang mereka peroleh, pasangan ini akhirnya berhasil menciptakan sejarah baru di Kabupaten Batanghari dan mengakhiri harapan relawan kotak kosong yang sering mengklaim tagar 2025 Tukar Bupati Batanghari. Rabu, 27 November.
Paslon nomor dua ini menerima 114.229 suara dari 100 persen suara yang diberikan, sementara kotak kosong menerima 33.002 suara, atau 77,58% dari suara yang diberikan kepada paslon Fadhil-Bakhtiar dan 22,42% dari suara yang diberikan kepada paslon tersebut. Pasangan calon juga menang dengan 69,62 persen dari 218.007 DPT Batanghari.
Dalam konferensi persnya, Fadhil mengucapkan terima kasih kepada semua orang Batanghari yang telah kembali memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memimpin Kabupaten Batanghari.
“Tentunya ini menjadi beban, menjadi tanggung jawab kami bersama Bang Bakhtiar dan jajaran Pemkab Batanghari untuk bekerja lebih baik lagi. Bahwa tingginya harapan masyarakat, tingginya kepercayaan masyarakat ini harus dijawab dengan kerja keras yang akan mendatangkan manfaat luar biasa bagi masyarakat Batanghari,” ujarnya.
Fadhil menyatakan bahwa selama sosialisasi selama kampanye, ia tidak cendrung mengajak masyarakat untuk memilih Bakhtiar dan dirinya karena ada masyarakat yang tidak datang ke TPS dan juga memilih kotak kosong. Namun, bagaimana meyakinkan pemilih untuk mengunjungi TPS.
Karena ada sebagian orang yang menganggap bahwa pilkada sudah berakhir karena hanya ada satu calon. Dia berkata, “Keinginan masyarakat untuk hadir ke TPS hanya 47% saat kami melakukan survei awal, tetapi alhamdulillah hari ini naik menjadi 69%.
Selanjutnya, masyarakat yang memilih kotak kosong adalah komponen demokrasi. Bahkan Fadhil pernah merasa takut karena tidak ada pesaing atau lawan. Ini menjadi penghalang bagi stabilitas politik di daerah.
Namun, karena KPU memiliki ruang pilihan dengan gambar kosong, petanya menjadi lebih jelas. Fadhil menyatakan bahwa karena politik memiliki hanya dua pilihan: koalisi atau oposisi, tidak mungkin untuk mengambil keduanya atau berada di tengah-tengah.
Kita menemukan bahwa ada orang yang menggerakan kotak kosong selama Pilkada berlangsung. Dia berkata, “Ini bagian dari demokrasi, dia boleh bergerak ke arah yang berbeda, entah itu positif atau negatif, tapi itu diizinkan dalam demokrasi,” pungkasnya.

