“Cakupan CKG Provinsi Jambi sudah sangat tinggi, dari total 457.952 penduduk yang hadir/mendaftar di Satu Sehat Indonesiaku Aplikasi Sehat Indonesia Ku (SSI/ASIK) terdapat 430.265 penduduk yang sudah dilakukan CKG 93,95%). Jika kita melihat dari CKG bayi baru lahir sudah mencapai 97,4%” ungkap Dr Ike, Senin (23/2/2026) sore.
Meski demikian, tantangan distribusi Bahan Medis Pakai Habis Program (BMPHP) dan alat kesehatan masih menjadi hambatan. Distribusi dilakukan melalui mekanisme micro planning yang disusun Puskesmas kabupaten/kota dan diajukan langsung ke Kementerian Kesehatan. Namun, dalam praktiknya, barang yang diterima terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan yang diajukan.
Selain persoalan logistik, sistem pelaporan melalui aplikasi ASIK juga dinilai belum optimal. Petugas Puskesmas tidak hanya menginput data pemeriksaan CKG di ASIK, tetapi juga harus mengisi laporan di berbagai aplikasi program lain sesuai jenis skrining. Misalnya, petugas kesehatan jiwa wajib menginput data ke SIMKESWA, petugas TBC ke SITB, serta berbagai aplikasi lain yang jumlahnya mencapai puluhan. Kondisi ini dinilai menambah beban administrasi tenaga kesehatan di lapangan.
“Masing-masing program mempunyai aplikasi, jadi petugas kami di lapangan harus mengisi aplikasi di program dan aplikasi untuk ASIK. Itu yang menjadi tugas Kesehatan menjadi lebih berat,” tegas Dr. Ike
Lebih lanjut, Dr. Ike menambahkan, apabila penggunaan ASIK menjadi kebijakan nasional, maka perlu dilakukan penyederhanaan sistem pelaporan agar tidak membebani tenaga kesehatan. Menurutnya, fokus utama tenaga kesehatan harus tetap pada pelayanan kepada masyarakat, yang didukung oleh sistem aplikasi terintegrasi dan mencakup seluruh jenis pemeriksaan.






